AFFA Dampingi APRIL International Enterprise Pte. Ltd. Menangkan Gugatan Penghapusan Merek Print One di Indonesia - AFFA IPR

AFFA Dampingi APRIL International Enterprise Pte. Ltd. Menangkan Gugatan Penghapusan Merek Print One di Indonesia

Dalam dunia bisnis yang semakin kompetitif, perlindungan Merek menjadi faktor kunci dalam menjaga identitas dan keunggulan usaha. Namun, tidak jarang pendaftaran Merek mengalami hambatan karena sudah ada Merek lain yang sudah terdaftar sebelumnya, tapi ternyata tidak digunakan. Itulah yang terjadi pada kasus PRINT ONE, dimana AFFA berhasil mendampingi APRIL International Enterprise Pte. Ltd. yang juga merupakan pemilik dari merek ternama PAPER ONE, dalam memenangkan gugatan penghapusan Merek PRINT ONE  yang telah lama tidak digunakan di Indonesia berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan sebelumnya.   Kasus ini bermula ketika APRIL International Enterprise Pte. Ltd. mengajukan permohonan pendaftaran Merek “PRINT ONE” dengan Nomor Permohonan DID2021062992 di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) pada tahun 2021. Namun, pengajuan tersebut ditolak oleh DJKI karena dianggap memiliki persamaan dengan Merek “PRINT ONE” yang telah terdaftar atas nama PT Daksa Sinergi sejak 12 Mei 2020.   Berdasarkan investigasi independen yang dilakukan, ditemukan bahwa Merek PRINT ONE tidak pernah digunakan dalam perdagangan selama lebih dari tiga tahun sejak pendaftarannya. Berdasarkan temuan ini, AFFA mengajukan gugatan penghapusan Merek ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada bulan April 2024.   Landasan Hukum Penghapusan Merek yang Tidak Digunakan   Gugatan ini diajukan berdasarkan Pasal 74 Ayat (1) UU No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, yang menyatakan bahwa Merek yang tidak digunakan selama tiga tahun berturut-turut sejak tanggal pendaftaran dapat dihapus atas permintaan pihak yang berkepentingan. Dalam persidangan, PT Daksa Sinergi tidak hadir meskipun telah dipanggil secara sah. Hal ini semakin memperkuat bukti bahwa Merek tersebut tidak aktif digunakan di pasar.   Putusan Pengadilan   Setelah melalui serangkaian sidang, Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada bulan Oktober 2024 akhirnya mengabulkan gugatan yang diajukan AFFA, dan dalam putusannya, pengadilan menyatakan bahwa: Penggugat memiliki kepentingan hukum untuk mengajukan gugatan penghapusan Merek. Merek PRINT ONE milik PT Daksa Sinergi resmi dihapus dari Daftar Umum Merek. DJKI diperintahkan untuk mencabut Merek tersebut dan mengumumkannya dalam Berita Resmi Merek. PT Daksa Sinergi dihukum untuk membayar biaya perkara sebesar Rp 8.820.000.   Keputusan ini menjadi kemenangan penting bagi APRIL International Enterprise Pte. Ltd., yang kini dapat mengajukan kembali pendaftaran Mereknya di Indonesia tanpa hambatan.   Pelajaran Dari Kasus Penghapusan Merek Print One di Indonesia   Kasus ini menjadi contoh nyata bahwa Merek yang tidak digunakan bisa dihapus, bahkan jika masih terdaftar secara resmi. Oleh karena itu, pemilik Merek harus memperhatikan tiga faktor berikut:   Pastikan Merek yang telah didaftarkan benar-benar digunakan dalam di Indonesia. Jika tidak, pihak lain dapat mengajukan gugatan penghapusan. Jika Merek Anda terhalang oleh Merek lama yang tidak digunakan, ada solusi hukum yang bisa dilakukan. Penghapusan Merek adalah salah satu strategi untuk membuka jalan bagi pendaftaran Merek baru. Percayakan pendaftaran Merek pada Konsultan kekayaan Intelektual berpengalaman agar Anda dapat melindungi Merek Anda di Indonesia.   Praktik Penghapusan Merek Saat Ini   Namun, mohon diperhatikan bahwa  semenjak adanya Putusan Mahkamah Konstitusi No. 144/PUU-XXI/2023, Merek hanya bisa dihapuskan apabila tidak dipakai selama 5 tahun berturut-turut dari tanggal pendaftaran. Selain itu, Merek tidak bisa dihapusakan apabila ada pelarangan impor terhadap barang atau jasa yang menggunakan Merek tersebut, lalu adanya pembatasan perizinan terkait dengan barang atau jasa yang menggunakan Merek tersebut, dan apabila Merek tidak bisa digunakan dalam keadaan force majeur.   Baca juga: AFFA Dampingi Trek Bicycle Menangkan Gugatan Penghapusan Merek Marlin di Indonesia Untuk informasi lebih lanjut mengenai pendaftaran dan perlindungan Merek di dalam dan luar negeri, Anda dapat menghubungi kami melalui email [email protected].

Walmart Wirkin VS Hermes Birkin: Dilema Harga Barang Tiruan - AFFA IPR

Walmart Wirkin VS Hermès Birkin: Dilema Harga Barang Tiruan

Akhir Desember 2024, toko retail Walmart Amerika Serikat mendadak viral karena menjual tas “Wirkin,” yang memiliki kemiripan dengan tas Birkin dari Hermès.  Media sosial mereka pun diserbu perbincangan yang berkutat pada etika mode, perilaku konsumen, dan tentunya isu pelanggaran Kekayaan Intelektual. Isu ini menjadi kontroversi karena ada tuntutan mode yang harusnya bisa dijangkau masyarakat luas, yang bertentangan dengan perlindungan eksklusivitas Merek.    Wirkin sebenarnya hanyalah nama sebutan yang diberikan oleh “netizen” pada produk tanpa nama yang menyerupai tas Birkin, yang dijual oleh Walmart melalui marketplace-nya seharga USD 78. Namun viralitasnya tidak lepas dari anggapan publik bahwa tas ini meniru desain Hermès yang legendaris, yang harganya paling murah mencapai USD 10.000. Wirkin semakin viral setelah semakin banyak video review yang membandingkannya dengan Birkin.   Implikasi Etis dan Hukum   Pendukung Wirkin berpendapat bahwa kemewahan mode tidak seharusnya menjadi konsumsi kelas atas saja, namun bisa pula diakses sehari-hari oleh masyarkat banyak. Namun, kritikus berpendapat bahwa produk KW seperti ini merusak kualitas, eksklusivitas, dan melanggar Hak Kekayaan Intelektual Hermès.   Dari perspektif hukum, Hermès berpotensi mengajukan klaim pelanggaran Merek, khususnya “Trade Dress,” karena desain Wirkin sangat mirip dengan elemen yang dapat dikenali dari Birkin. Trade Dress ini bagian dari Merek yang melindungi penampilan visual suatu produk, dimana konsumen dapat membedakannya dalam kegiatan perdagangan. Namun, Walmart dapat mengelak dengan mengatakan bahwa produknya tidak menggunakan Merek Hermès dan memiliki harga jual yang signifikan, sehingga konsumen tidak akan salah beli.   Tanggapan Walmart   Namun tanpa ada keributan di permukaan, sejak pertengahan Januari 2025, Walmart telah menarik Wirkin dan memberikan penguman, “In some instances, products may no longer be available. We invite customers to continue exploring our expansive selection and uncover new alternatives.” Yang berarti, produk sudah tidak lagi tersedia dan menyarankan pembeli untuk mencari produk lain. Langkah ini kemungkinan besar dilakukan untuk mengurangi resiko hukum dan menjaga hubungan baik dengan merek-merek lain.   Perbedaan Utama Wirkin dengan Birkin   Fitur “Wirkin” Birkin Harga USD 78 Mulai dari USD 10.000 Merek Tidak Ada Ada logo “Hermès Paris” Bahan Kulit sintetis atau imitasi. Kulit asli berkualitas tinggi atau kulit eksotis. Pilihan Ukuran Standar, secara umum lebih kecil. Beragam ukuran: (25cm, 30cm, 35cm, & 40cm) Kualitas Jahitan Jahitan produksi massal. Jahitan manual menggunakan teknik saddle. Pengemasan Box standar. Disertai kotak jingga Hermès dan kantong anti debu. Metode Penjualan E-Commerce Walmart Hanya tersedia di butik Hermès. Distribusi Tidak ada pembatasan. Dikontrol ketat, bahkan harus antri.   Dari kasus Wirkin-Birkin ini, kita lagi-lagi mendapat wawasan bahwa faktor harga masih menjadi sumber sengketa Kekayaan Intelektual. Dimana versi murah dari produk terkenal, apalagi mewah masih banyak diminati pasar, tanpa mempertimbangkan keasliannya. Namun jika Anda pemilik Merek, Anda tidak perlu khawatir karena dengan Merek yang telah terdaftar, Anda-lah pemilik yang sah dan berhak melakukan tuntutan hukum atas produk tiruan tersebut. Kalau perlu, Anda dapat memperkuatnya dengan mendaftarkan desain produk Anda sebagai Desain Industri. Agar produk Anda juga secara estetik juga terlindungi.   Selain itu, jika Anda pemilik retail, Anda harus mulai  memahami seluk-beluk hukum Merek untuk melindungi citra bisnis Anda agar terhindar dari viralitas semu, yang justru dapat membahayakan kelangsungan bisnis Anda.   Baca Juga: TaylorMade Tuntut Costco Karena Langgar Paten P790 Iron Jika Anda memerlukan informasi lebih lanjut tentang perlindungan Merek di Indonesia atau ke seluruh dunia, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui email di [email protected].

Pokemon VS Palworld: Gotta Catch'em All (Patent Infringement) - AFFA IPR

Pokemon VS Palword: Gotta Catch’Em All (Patent Infringement)?

Dengan statusnya sebagai Intellectual Property (IP) dengan pendapatan terbesar di dunia, langkah Nintendo untuk menuntut perusahaan kecil sering kali memicu pertanyaan: “Apakah ini soal perlindungan IP atau sekadar menjaga dominasi pasar?” Di tengah dunia pop culture yang terus berkembang—dari game hingga film dan mainan—muncul perusahaan-perusahaan baru yang mencoba menyegarkan industri ini dengan inovasi. Namun, ketika kesegaran tersebut dianggap memiliki kemiripan dengan IP-IP terkenal, diskusi pun memanas.   Para penggemar, yang selalu haus akan hal-hal baru, cenderung berpihak pada pendatang baru, bahkan ketika mereka dituding melanggar IP, seperti Hak Cipta dan/atau Paten dari karya-karya besar yang sudah ada. Baru-baru ini, Nintendo, pemilik IP Pokémon, melayangkan gugatan terhadap Pocketpair, pengembang game Palworld, yang oleh para gamer dijuluki sebagai “Pokemon Bersenjata.” Tuduhan pelanggaran Paten ini mengemuka karena karakter-karakter dalam Palworld dianggap memiliki banyak kemiripan dengan Pokémon, namun membawa senjata,   Tapi apakah unsur  itu yang membuat Palword digugat Nintendo? Apakah benar ada pelanggaran Paten di sana?   Palworld pertama kali rilis di Windows, Xbox One, pada Xbox Series X/S di bulan Januari 2024, dan sukses terjual sebanyak 8 juta kopi hanya dalam waktu 6 (enam) hari sejak tanggal perilisannya. Game ini pun berencana merambah konsol PlayStation 5 mulai September 2024. Tapi jadwal perilisan ini akhirnya terhambat…   Karena sejak September itu pula Nintendo mengajukan gugatan melalui Pengadilan Distrik Tokyo, menuntut agar Pocketpair menghentikan distribusi Palworld di Jepang dan membayar kompensasi atas kerugian yang ditimbulkan.    Gugatan tadi mulai menarik perhatian publik setelah Florian Mueller, seorang “Aktivis Paten” yang kerap mengadvokasi gugatan terhadap pengembang game kecil, menyebutnya sebagai “pembulian yang kasat mata,” dan komunitas gamer terpengaruh opininya.   Gugatan Pelanggaran Paten yang Diajukan Nintendo   Nintendo menyatakan bahwa Palworld telah melanggar tiga Paten yang melindungi mekanisme permainan dari game Pokémon sebagai berikut: Paten No. JP7545191B1: kegiatan melempar bola ke karakter di lapangan Paten No. JP7493117B2: mekanisme penguncian atau penargetan Paten No. JP7528390B2: mekanisme mengendarai karakter Nintendo kemudian menuntut Pocketpair membayar denda sebesar 5 juta Yen untuk setiap pelanggaran Paten, ditambah biaya keterlambatan. Mereka juga menginginkan agar distribusi Palworld dihentikan di Jepang. Namun Pocketpair menolak gugatan tersebut dengan argumen  “Prior Art.”   Kontroversi Validitas Paten Pokemon   Florian Mueller dalam blognya mengkritik gugatan ini dengan menyatakan bahwa Paten yang diklaim Nintendo tidak layak disebut inovasi teknologi memiliki kebaruan, atau dengan kata lain tidak layak mendapatkan perlindungan Paten. Menurutnya, paten-paten tersebut hanya mengatur mekanisme permainan dasar yang sebenarnya umum dalam industri video game, seperti menangkap dan mengendarai karakter. Di banyak negara, termasuk Jepang, Paten atas mekanisme permainan seperti ini, biasanya tidak dapat diberikan. Namun karena Nintendo adalah perusahaan besar, maka Mueller menduga ada keistimewaan.   Jika Nintendo berhasil memenangkan kasus ini, Mueller memperingatkan bahwa hal ini dapat menjadi preseden buruk dalam industri game, karena mekanisme permainan dasar ternyata dapat dipatenkan, dan membuka jalan bagi lebih banyak gugatan atas game-game yang menggunakan elemen gameplay yang serupa. Dengan kata lain, hal ini bisa menjadi langkah awal untuk membatasi inovasi dalam desain permainan dan menimbulkan ketakutan di kalangan pengembang game yang ingin menggunakan mekanisme serupa.   Dasar Penggunaan Argumen “Prior Art” oleh Pocketpair   Pocketpair mengklaim bahwa Palworld sudah diumumkan sejak tahun 2021, atau 6 (enam) bulan sebelum Nintendo mengajukan paten-paten tersebut, dengan istilah yang lazim dikenal sebagai “Prior Art” atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan “Teknik Terdahulu.” Namun argumen ini juga tidak mudah untuk dibuktikan, karena Pocketpair harus menunjukkan deskripsi yang sangat spesifik tentang bagaimana fitur-fitur tersebut diterapkan untuk dianggap sebagai Teknik Terdahulu. Misalnya dengan menunjukkan bukti dari Paten lain yang sudah ada atau sudah dimohonkan sebelumnya, artikel jurnal ilmiah, buku, penggunaannya di publik, sehingga dapat membuktikan bahwa Paten milik Nintendo tidak memiliki langkah inventif, sehingga tidak sah untuk mendapatkan Paten.   Namun Mueller mengingatkan, kasus ini dapat memakan waktu bertahun-tahun jika tidak ada kesepakatan, dan yang akan menderita kerugian terbesar adalah Palword, karena akan kehilangan potensi penjualannya di konsol PS5. Ditambah lagi Nintendo memang terkenal serius dalam melindungi IP-IP miliknya.   Karena bukan tidak mungkin, kesuksesan valuasi seratus milyar dollar dari Pokemon adalah hasil dari perlindungan maksimal yang dilakukan oleh Nintendo. Bagaimana mereka memaksimalkan IP, mendapatkan keuntungan dan royalti dari setiap inovasi yang mereka punya, adalah kunci suksesnya selama ini.   Maka dari itu, jika Anda juga bergerak di industri kreatif dan inovatif, kasus ini dapat menjadi pelajaran berharga. Dimana IP dapat menjadi sesuatu yang bernilai besar jika kita benar-benar tahu bagaimana cara mendapatkan perlindungan secara maksimal dan menjaganya sebaik mungkin. Karena dari sanalah kita bisa mendapatkan royalti dari inovasi-inovasi yang kita patenkan.   Jika Anda membutuhkan informasi lebih lanjut terkait pendaftaran dan/atau perlindungan Paten, Anda dapat menghubungi kami melalui emal: [email protected]. Sumber: Nintendo The Verge